Desain web sudah mati! Web desain dianggap oleh sebagian orang sudah mati, alasannya karena beberapa hal yang mengindikasikan sudah tidak terlalu dibutuhkannya jasa desainer web pada saat ini.

Munculnya banyak sekali CMS dan Framework membuat orang dengan mudah menciptakan website, bahkan hanya dalam hitungan menit sudah bisa menciptakan website yang ciamik dan sudah bisa digunakan untuk usaha, tanpa perlu menyewa jasa seorang desainer web.

design

IMAGE: IMAGEZOO/CORBIS

Ada beberapa gejala yang membuat desain dianggap sudah mati, seperti Jurnal web kutip dari tulisan Sergio Nouvel di laman Mashable, Senin (19/7/15).

Komoditas dikuasai template

Saat ini sebagian website yang ada di internet berjalan dibawah sebuah framework atau service, atau bisa kita sebut juga berjalan dengan sebuah CMS – WordPress, Blogger, Drupal, Tumblr, dan lain sebagainya. Framework tersebut menjadi pondasi seseorang dalam menciptakan website, bahkan sebagian besar website yang ada saat ini dibuat menggunakan WordPress.

Konsekuensi dari semakin populernya layanan tersebut adalah munculnya banyak sekali template gratisan maupun berbayar yang membuat seseorang bisa menciptakan website dengan desain yang cukup bagus hanya dalam waktu beberapa menit dan tanpa perlu menyewa jasa seorang desainer web. Tinggal pilih template saja, lalu pasang di CMS yang digunakan, Beres.., apalagi sekarang template yang disediakan gratis atau berbayar (dengan harga relatif murah) tersebut bisa dengan leluasa dan dengan mudah di edit tanpa seseorang perlu paham koding web.

Pola desain web yang sudah matang

Minimnya inovasi dalam dunia desain web dianggap salah satu gejala yang memperkuat statemen matinya desain web tersebut. Jika dilihat, rasanya yang terbaru dari dunia desain web itu tidak banyak, sebut saja responsive web, itupun sebenarnya sudah cukup lama, karena responsive web sudah jadi tren sejak munculnya sebuah tulisan di website Alist Apart pada May 25, 2010 (Sudah 5 tahun lalu). Atau desain parallax, hal tersebut dianggap oleh banyak orang tidak terlalu berguna juga.

Pola desain yang lama sudah sangat dikenal oleh masyarakat pengguna internet, sebut saja bentuk halaman checkout pada sebuah website penjualan online, atau halaman registrasi, halaman login yang jika diperhatikan hanya begitu-begitu saja dan tidak akan banyak berubah. Mencoba berkreasi di bagian tersebut dianggap sia-sia saja, karena desain sederhana saja sudah membuat fungsi-fungsi formulir tersebut berjalan dengan baik.

Desain web sekarang sudah bisa otomatis dan menggunakan kecerdasan buatan.

Ada tren baru di dunia desain web yaitu desain yang otomatis, contohnya saja The Grid. Ini adalah sebuah layanan untuk membangun website dasar berdasarkan keputusan desain -semantik- berdasarkan kecerdasan buatan (AI), website yang bisa bekerja dengan sendirinya karena dia bisa mendeteksi layout mana yang baik, warna, font, dan tampilan elemen lain yang cocok untuk website Anda. Bahkan desain yang dihasilkan bisa lebih bagus dibandingkan jika Anda memesan desain pada seorang desainer web.

Halaman fan page Facebook sebagai homepage

Pada akhir tahun 1990-an orang berbisnis di internet dengan membeli domain .com, membeli paket hosting yang mahal, dan menyewa seorang web master untuk bisa memiliki sebuah website sederhana untuk bisnisnya agar orang bisa melihat mereka dari seluruh dunia.

Namun pada tahun 2005 hal tersebut mulai merosot, dimana orang bisa dengan mudahnya memperkenalkan dirinya tanpa perlu bayar domain dan hosting bahkan tidak perlu seorang web master untuk bisa memiliki website karena semua bisa dilakukan dengan mudah di Blogger atau WordPress, hal tersebut sudah cukup untuk mengunggah foto, membuat catatan, memposting berita yang bisa dikomentari oleh para pengunjung, serta berbagai fungsi lainnya.

Namun hari ini semua sudah bisa dilakukan hanya dengan bermodal sebuah fan page yang bisa dibuat dengan gratis di Facebook, yap, facebook fan page bisa dijadikan homepage, dan ini cukup efektif mengingat begitu banyaknya orang menggunakan facebook pada saat ini. Facebook fan page juga bisa membuat bisnis lebih terlihat oleh masyarakat tanpa perlu sebuah website yang mahal dengan desain yang bagus.

Ponsel membunuh web

Sebagian orang saat ini mulai beralih dari yang dulu mengakses internet dari komputer sekarang cukup dari smartphone saja. Seberapa sering Anda mengunjungi situs web dari perangkat mobile Anda saat ini dengan mengetikan langsung alamat web pada address bar yang disediakan?

Banyak orang mengakses website untuk mendapatkan informasi melalui ponselnya, sedangkan kendala yang dihadapi pengguna masih sangat banyak, mulai dari halaman web yang tidak bagus ketika dibuka dengan ponsel, kecepatan akses yang masih lambat sampai paket internet yang terbatas. Kendala-kendala tersebut membuat para pemilik website menyediakan aplikasi khusus untuk memudahkan pengguna, sebut saja situs facebook yang ketika seseorang ingin membuka dari ponsel, maka  dia akan lebih condong untuk membukanya dari aplikasi Facebook dibandingkan dengan membuka halaman situs Facebook dari web browser yang ada di ponselnya dengan alasan kecepatan dan kenyamanan.

Sebagai tambahan contoh lain adalah situs detik.com yang begitu banyak pengunjungnya dari komputer, namun banyaknya pengguna yang mengakses web dari ponsel membuat detik juga menciptakan aplikasi tersendiri yang bisa di download oleh pengguna baik di Android maupun iOS, dari situ orang bisa membaca berita detik dengan lebih cepat, inovasi dalam dunia web desain seperti responsive web tidak bisa menyajikan kecepatan seperti itu, karena responsive web yang ada saat ini hanya sebatas menyembunyikan bagian-bagian tertentu dari sebuah web, sedangkan besar ukuran web yang di muat sama dengan versi desktop, sedangakan lagi-lagi kecepatan internet masyarakat masih banyak yang lambat.

Munculnya berbagai aplikasi yang bisa diandalkan

Dulu orang sangat mengandalkan situs pencarian google untuk mencari sesuatu dan kemudian dari situ barulah mengunjungi web resminya, sebut saja ingin mencari restoran, namun sekarang orang cukup menggunakan fasilitas siri untuk mengetahui restoran-restoran terdekat dan semua yang diinginkan bisa diketahui dengan cepat hanya dari Google karena gambar foto restoran, tampilan menu, alamat, nomor telepon, semua dimunculkan oleh Google tanpa orang harus membuka website resminya, dari situ sebenarnya peran website mulai agak berkurang karena tidak perlu dikunjungi lagi karena semua informasi penting sudah ditarik oleh google, ini mengimplikasikan pergeseran dari web page menjadi web service, pekerjaan desain web tentu juga sedikit berkurang.

Contoh lainnya adalah orang tidak perlu mengakses situs berita sepakbola untuk mengetahui skor pertandingan karena semua jadwal dan hasil pertandingan, bahkan yang sedang berlangsung sekalipun bisa dilihat dari aplikasi, misalnya saja dari Google now, atau aplikasi Live Score saja.

Itulah beberapa gejala yang mungkin bisa menjadi asalan mengapa desain web dianggap oleh sebagian orang sudah akan mati atau bahkan sudah mati, sebenarnya masih banyak poin-poin lainnya yang bisa jadi gejala, poin-poin diatas hanyalah sedikit poin yang dikutip dari artikel sumber dengan judul Web design is dead yang dilansir situs Mashable.

– Baca juga: Web design is NOT dead

Namun sebenarnya desainer tidak perlu gusar juga dengan hal tersebut, karena kabar baiknya adalah permintaan untuk desain user experience (UX Design) meningkat tajam, dan semua orang sepertinya akan mendesain ulang produknya, dan ini tentunya peluang bagus untuk para desainer. Desainer sekarang disarankan untuk paham hal tersebut, dan mulai sedikit bermigrasi dan mau menambah sedikit ilmu, bukan lagi sekedar desainer web, namun harus paham tentang UX design, karena pasar membutuhkan hal tersebut, untuk bisa bersaing mau tidak mau harus mengikuti arus.

Anda juga bisa membaca artikel menarik yang berjudul Web design is NOT dead yang di publish oleh laman UXMag serta Why web design is dead part 2 yang bisa dilihat di laman Medium.